Gubernur juga menyoroti pentingnya pembagian komoditas unggulan antarwilayah. Ia mencontohkan Manggarai Timur yang kini menjadi pusat pengembangan proyek tempuran, serta potensi peternakan dan jagung di Sumba Timur. “Setiap daerah punya keunikan dan keunggulan. Kita harus duduk bersama, bagi tugas, dan saling topang,” ucapnya.
Salah satu isu strategis yang dibahas adalah penguatan penyiapan pekerja migran terlatih secara resmi. Gubernur memperkenalkan Pak Said, pelaku usaha pengiriman tenaga kerja yang telah siap menyalurkan ribuan perawat dan tenaga kesehatan ke luar negeri. “Kita buka peluang ini seperti Filipina, yang ekonominya kuat karena pekerja migran. Kita siapkan dengan bahasa, keterampilan, dan legalitas yang jelas,” tambahnya.

Isu ketenagakerjaan dan kesehatan juga menjadi perhatian khusus. Ia menyinggung perlunya evaluasi sistem tenaga medis dan spesialis agar tidak terjadi ketimpangan antarwilayah. “Jangan sampai urusan teknis seperti di Sikka terulang. Kita harus punya regulasi dan pola teknis yang adil dan berkelanjutan,” katanya.
Menutup sambutannya, Gubernur Melkiades meminta agar seluruh kepala daerah mempresentasikan potensi dan program strategis mereka dalam waktu 10 menit per wilayah. Hasil dari Rakor ini, bersama dengan masukan dari Rakor Sumba dan Flores yang akan datang, akan dirumuskan dalam satu dokumen pembangunan kawasan Timor NTT, dan segera diajukan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai dokumen legal rencana pembangunan lima tahun ke depan.















