Kupang – Real Estat Indonesia (REI) Nusa Tenggara Timur resmi menutup gelaran REI Expo 2025 yang berlangsung di Lippo Plaza Kupang, Minggu (16/11/2025). Pameran yang didukung berbagai sponsor seperti Conforta, Telkomsel, BRI, Maxim, BPJS Ketenagakerjaan, Pegadaian, Bank BTN, dan SKI ini menjadi expo terlama dan dinilai penuh warna oleh panitia.
Acara penutupan dihadiri Ketua Apindo bersama sejumlah pengurus dan anggota REI NTT. Kegiatan diawali dengan lomba makan cepat yang dibuka dengan tarian, kemudian dilanjutkan laporan panitia dan penampilan paduan suara.
Ketua Panitia, Maya, dalam laporannya menyebutkan bahwa pameran tahun ini berlangsung selama tiga minggu dan memberikan hasil yang memuaskan meski belum mencapai target utama.“Expo ini adalah yang terlama, Tahun ini penjualan mencapai Rp23 miliar untuk rumah subsidi sebanyak 126 unit, dan Rp880 juta untuk rumah komersial. Totalnya menjadi Rp24 miliar,” jelas Maya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh developer, anggota DPD REI NTT, serta para sponsor, terutama Bank BRI dan BTN yang memberikan dukungan penuh selama pameran. Ketua DPD REI NTT, Chandra Santosa menegaskan bahwa perjuangan REI menyediakan rumah rakyat tidaklah mudah.
Tiga minggu expo dijalankan tanpa dukungan dari pemerintah daerah maupun fasilitas kredit vertikal.“Perjuangan ini tidak mudah. Kami ingin bukan sekadar menjual rumah, tetapi memastikan masyarakat NTT benar-benar memiliki rumah,” kata Chandra.
REI NTT juga meminta pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota memberikan dukungan lebih kuat, terutama terkait kebijakan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Salah satu komponen yang dianggap paling membebani adalah BPHTB
“Jika BPHTB diringankan atau dibebaskan, masyarakat NTT akan jauh lebih mudah memiliki rumah. Selama ini kami bergerak tanpa dana APBN dan membuka wilayah-wilayah yang dulunya terisolasi. Namun kadang kami dipandang sebelah mata oleh beberapa stakeholder,” tegasnya.
Chandra menyebut REI NTT sebagai aset besar yang berperan membuka akses perumahan di banyak daerah. Ia menilai tanpa dukungan pemerintah, pembangunan perumahan rakyat akan berjalan lebih lambat.“Kami mohon pemerintah NTT membantu memperbanyak masyarakat yang bisa memiliki rumah layak huni. Indikator kemiskinan salah satunya adalah tidak memiliki rumah yang layak,” ujarnya.
Pengurus REI NTT, Boy Berelaku, menyebut transaksi pada hari kedua expo baru mencapai Rp2,3 miliar dari 126 unit yang dipasarkan. Ia menilai angka tersebut belum ideal akibat menurunnya daya beli masyarakat beberapa bulan terakhir.Dengan nilai proyek tahunan sebesar Rp120 miliar, ia menyampaikan bahwa perlambatan penjualan menunjukkan perlunya intervensi kebijakan pemerintah.“Kami sudah menyediakan berbagai kemudahan, namun dukungan pemerintah tetap dibutuhkan agar rumah tetap terjangkau bagi MBR,” jelas Boy.
Beberapa pengurus lain juga mengungkapkan bahwa regulasi perumahan antara pusat dan daerah sering kali tidak selaras. Ketidaksinkronan tersebut menyebabkan proses pembangunan dan perizinan berjalan lebih lambat dari kebutuhan masyarakat. Di akhir acara, panitia menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba.Chandra berharap expo ini dapat menjadi momentum bagi REI NTT untuk terus mewujudkan impian masyarakat memiliki rumah.“Semoga lewat expo ini, REI NTT bisa ‘merumahkan’ lebih banyak masyarakat NTT yang belum memiliki rumah layak huni,” tutupnya.*









