Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Opini

Purbaya: Integritas, Keberanian, dan Jejak Pengabdian untuk Ekonomi Indonesia

45
×

Purbaya: Integritas, Keberanian, dan Jejak Pengabdian untuk Ekonomi Indonesia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA

DetikNTT.Com || Jakarta – Pergantian Menteri Keuangan pada 14 September 2026 tentu merupakan bagian dari hak prerogatif Presiden. Namun demikian, pergantian jabatan tidak seharusnya menghapus penghargaan terhadap prestasi, keberanian, dan kontribusi seseorang selama mengemban amanah negara. Dalam konteks itulah Purbaya Yudhi Sadewa layak dikenang secara positif: bukan sebagai seorang menteri yang gagal, melainkan sebagai seorang teknokrat yang berani membawa pendekatan berbeda dalam pengelolaan ekonomi nasional.

Purbaya mempunyai karakter yang cukup khas. Ia tidak melihat APBN hanya sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas dan disiplin fiskal, tetapi juga sebagai alat untuk menggerakkan perekonomian. Pendekatan tersebut terlihat dari keberaniannya mendorong likuiditas, kredit, investasi, dan aktivitas sektor riil. Salah satu kebijakan yang paling menonjol adalah penempatan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah pada lima bank Himbara untuk memperkuat likuiditas perbankan dan mendorong kegiatan ekonomi.

Pendekatan Purbaya memang lebih agresif dibandingkan gaya pengelolaan fiskal sebelumnya, tetapi keberanian tersebut bukan tanpa dasar. Ia berulang kali menekankan pentingnya kebijakan berbasis data dan keinginan untuk membawa pertumbuhan ekonomi Indonesia melampaui kisaran lima persen. Dalam pandangan saya, karakter seperti ini penting bagi Indonesia: seorang pengambil kebijakan tidak cukup hanya menjaga keadaan tetap stabil, tetapi juga perlu mempunyai keberanian mencari ruang baru untuk pertumbuhan.

Baca Juga:  Disiplin vs Distraksi: Mengapa Generasi Milenial Kian Jauh dari Literasi di Era Digital

Kinerja fiskal selama masa kepemimpinannya juga menunjukkan sejumlah capaian penting. Pada Semester I 2026, pendapatan negara mencapai sekitar Rp1.459,4 triliun dan tumbuh 21,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode yang sama, defisit APBN berada di sekitar 0,76 persen terhadap PDB dan keseimbangan primer mencatat surplus sekitar Rp85,1 triliun. Pertumbuhan ekonomi juga tetap berada di atas lima persen pada beberapa kuartal.

Purbaya juga memperoleh pengakuan publik. Survei Index Politica pada April 2026 menempatkannya sebagai menteri dengan kinerja terbaik, sementara evaluasi lain pada September 2026 masih menempatkannya dalam kelompok tiga besar menteri dengan capaian tertinggi. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya diperhatikan oleh kalangan ekonomi dan pasar, tetapi juga mendapatkan apresiasi dari masyarakat.

Baca Juga:  Taman Kota dan Jalan yang Terputus: Ujian Keadilan Pembangunan di Ende

Tentu, setiap kebijakan mempunyai risiko dan tidak semua pendekatan Purbaya diterima tanpa kritik. Sebagian pasar mempertanyakan agresivitas kebijakannya, tekanan fiskal meningkat, dan kepercayaan investor tetap menjadi isu yang harus dijaga. Seorang pemimpin ekonomi tidak hanya dinilai dari apakah seluruh kebijakannya disukai pasar, tetapi juga dari keberaniannya mengambil tanggung jawab, membaca peluang, dan mencoba keluar dari pola lama ketika dibutuhkan.

Purbaya memiliki pengalaman panjang sebagai ekonom, profesional pasar modal, pejabat pemerintah, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan, hingga akhirnya dipercaya menjadi Menteri Keuangan. Dengan rekam jejak seperti itu, ia tetap merupakan aset bagi bangsa Indonesia. Pergantian jabatan tidak menghapus pengetahuan, pengalaman, maupun kemampuan yang telah dibangunnya selama bertahun-tahun.

Bagi saya, warisan terpenting Purbaya adalah keberaniannya menggeser cara pandang terhadap APBN: dari sekadar menjaga APBN menjadi menggunakan APBN secara lebih aktif untuk menggerakkan ekonomi. Sejarah kelak akan menilai apakah seluruh kebijakannya tepat, tetapi satu hal pantas dihargai: ia telah berani mengambil posisi, membuat keputusan, dan bekerja dengan keyakinan terhadap arah kebijakan yang dianggapnya terbaik bagi pertumbuhan Indonesia.

Baca Juga:  Lentera di Gerbang Cendana: Sketsa Christian Widodo dan Manifesto Kemanusiaan di Kupang

Jabatan dapat berganti, tetapi integritas, keberanian, kompetensi, dan pengabdian akan meninggalkan jejak.

Karena itu, saya memilih melihat Purbaya bukan dari bagaimana ia meninggalkan kursi Menteri Keuangan, tetapi dari apa yang telah ia kerjakan ketika masih memegang amanah tersebut.

“Lebih baik kehilangan jabatan daripada kehilangan prinsip.”

Kepada Bapak Prof. Suahasil Nazara, Selamat atas pengangkatan Bapak sebagai Menteri Keuangan Republik Indonesia. Semoga amanah baru ini dapat dijalankan dengan penuh integritas, kebijaksanaan, dan dedikasi untuk menjaga perekonomian serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Tuhan senantiasa memberkati Bapak dalam setiap langkah dan pengabdian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilarang Copy!