Oleh: Maria Opivianti Nduwung
Mahasiswa Universitas Katolik Santu Paulus Ruteng, Program Studi Bahasa Inggris
DetikNTT.Com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) mengalami lonjakan yang sangat masif sejak tahun 2022 hingga saat ini. Kehadirannya tidak hanya menawarkan berbagai macam variasi teknologi, tetapi juga membawa perubahan radikal dalam berbagai aspek kehidupan. Sebagai seorang mahasiswa, saya secara tegas tidak menyetujui penggunaan AI yang berlebihan di kalangan pelajar, karena fenomena ini memunculkan perasaan terancam dan seolah-olah eksistensi kita mulai dikendalikan oleh sistem robotik. Pertanyaan mendasar yang perlu kita refleksikan bersama adalah: apakah AI hadir sebagai entitas yang menyelamatkan manusia, atau justru menjadi pembunuh karakter intelektual kita?
Pada dasarnya, manusia modern memiliki kecenderungan alamiah untuk mendambakan segala sesuatu yang serba instan. Sama halnya dengan pola konsumsi masyarakat yang gemar mencari makanan cepat saji, pola pikir pragmatis ini kini telah merambah secara masif ke dalam dunia akademis. Mahasiswa kerap kali tergiur untuk mencari jalan pintas tercepat dalam menyelesaikan berbagai tugas dan kewajiban mereka. Kecenderungan instan inilah yang membuat AI disambut dengan antusiasme tinggi, padahal di balik kemudahan semu tersebut tersimpan bahaya laten yang siap menggerus kualitas intelektualitas individu, dan ini merupakan hal yang sangat saya tentang berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan AI secara perlahan namun pasti telah menurunkan kualitas proses belajar mahasiswa. Ketika seluruh pengerjaan tugas langsung diserahkan kepada algoritma AI, proses esensial seperti berpikir logis, kemampuan menganalisis masalah, dan pendalaman materi menjadi tertinggal dan terabaikan. Dampaknya, saya merasa pemahaman akademis menjadi sangat dangkal dan sempit. Mahasiswa mungkin berhasil “mengetahui jawaban” dari sebuah persoalan, tetapi mereka kehilangan esensi karena tidak memahami proses atau cara kerja di balik rumusan jawaban tersebut.
Lebih jauh lagi, ketergantungan yang absolut pada AI berpotensi besar untuk mematikan daya nalar dan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Kondisi di mana seseorang merasa kehilangan kemampuan untuk berpikir mandiri dan senantiasa bergantung pada mesin adalah sebuah kemunduran. Ketika seluruh proses penyelesaian tugas, pencarian jawaban, hingga pembentukan ide murni diserahkan kepada kecerdasan buatan, otak manusia tidak lagi mendapatkan stimulasi yang memadai. Akibatnya, mahasiswa terjebak dalam zona nyaman yang memicu kemalasan berpikir.
Dari perspektif institusi pendidikan, kehadiran AI tanpa batasan yang jelas telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi integritas akademik di lingkungan kampus. Praktik plagiarisme kini menjadi jauh lebih mudah, cepat, dan sulit dilacak. Pihak kampus dan para pendidik sudah sepatutnya merasa sangat khawatir dengan fenomena degradasi moral ini. Banyak mahasiswa yang dengan mudahnya menyerahkan hasil pekerjaan AI sebagai karya pribadi mereka, tanpa sedikit pun mengerti, menguasai, atau mempertanggungjawabkan substansi dari tugas yang dikumpulkan tersebut.
Fenomena ketergantungan ini pada akhirnya bermuara pada satu kondisi kritis yang belakangan kerap diistilahkan sebagai brainrot atau pembusukan otak. Kondisi ini merujuk pada kemunduran fungsi kognitif di mana otak terbiasa untuk tidak memproses informasi secara analitis akibat paparan media instan dan AI. Pada akhirnya, kemampuan dasar manusia seperti pemecahan masalah (problem solving) dan kreativitas akan terkikis habis. Hal yang lebih memprihatinkan, mahasiswa pengguna AI seringkali menelan mentah-mentah jawaban yang diberikan tanpa melakukan upaya verifikasi, pencarian bukti empiris, atau pengecekan fakta terkait akurasi informasi tersebut.
Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada teknologi kecerdasan buatan akan membuat pondasi kemampuan manusia menjadi sangat rapuh. Semakin kita menyandarkan proses kognitif dan aktivitas sehari-hari pada teknologi, semakin besar pula risiko kelumpuhan massal yang menanti apabila terjadi kegagalan sistem, malfungsi, atau serangan siber. Kemampuan dasar manusia yang sejatinya harus terus diasah dan dipertahankan melalui proses belajar yang panjang, justru perlahan menghilang karena semuanya telah didelegasikan kepada entitas mesin.
Sebagai kesimpulan, tanpa adanya pengawasan yang jelas dan kesadaran diri yang kuat, dampak negatif dari penggunaan AI di dunia pendidikan jauh lebih besar dibandingkan dengan manfaat yang ditawarkannya. Kita harus senantiasa menyadari bahwa anugerah akal budi dan kemampuan berpikirlah yang menjadi garis pemisah utama antara derajat manusia dan hewan. Jika kita melepaskan hak istimewa untuk berpikir secara mandiri, maka identitas kemanusiaan kita patut dipertanyakan. Oleh karena itu, mari kita tingkatkan kesadaran bersama untuk melawan kemunduran kognitif ini dan memusnahkan fenomena brainrot dari dunia akademik demi masa depan pendidikan yang berintegritas.















