Sebanyak tujuh ogoh-ogoh turut meramaikan acara ini, terdiri dari enam ogoh-ogoh besar dan satu ogoh-ogoh kecil yang diarak oleh sekitar tiga puluh orang. Ketua Panitia, I Gusti Ngurah Eka Negara Suantara, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh tersebut disiapkan dalam waktu satu bulan dengan anggaran terbatas.
“Kita siapkan ogoh-ogoh ini selama sebulan. Awalnya hanya lima karena keterbatasan anggaran, tapi syukur bisa ditambah dua lagi, menjadi tujuh ogoh-ogoh,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa ogoh-ogoh tahun ini memang berkurang dibandingkan tahun lalu yang mencapai 12 karena beberapa pembuat ogoh-ogoh pindah ke Bali. Meski demikian, partisipasi umat dan dukungan berbagai pihak menjadikan acara ini tetap berlangsung sukses.

Wali Kota Kupang menutup sambutannya dengan sebuah ajakan penuh makna.
“Jika ingin berjalan cepat, berjalanlah sendirian. Tetapi jika ingin berjalan jauh, berjalanlah bersama-sama. If you want to go fast, walk alone. If you want to go far, walk together,” pungkasnya.
Salah satu warga, Ikra (53), mengaku sangat menikmati pertunjukan tersebut.
“Kita sangat terhibur dengan tarian ogoh-ogoh ini. Sebelum buka puasa, kita disajikan pentas yang sangat baik. Ini mencerminkan Kota Kupang yang toleransi tinggi,” ujarnya.














