Lebih lanjut, Wali Kota mengutip pemikiran Mahatma Gandhi: “Kebesaran dan kemajuan moral suatu bangsa dapat diukur dari bagaimana mereka memperlakukan sesama.” Ia pun mengajak seluruh warga untuk terus memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.
Terkait nilai strategis pawai ogoh-ogoh, Wali Kota menilai kegiatan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya dan religi.
“Pawai ogoh-ogoh bukan sekadar tradisi, tetapi dapat menjadi daya tarik wisata religi yang memperkaya khazanah budaya Kota Kupang. Oleh karena itu, ke depan kita akan mendorong keterlibatan UMKM dalam acara ini agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti filosofi Hari Raya Nyepi yang mengajarkan tentang harmoni dengan Tuhan (Ida Sang Hyang Widhi Wasa), sesama manusia (pawongan), dan alam lingkungan (palemahan). Filosofi ini, menurutnya, sejalan dengan salah satu prioritas dalam 100 hari kerja bersama Wakil Wali Kota, yaitu penanganan sampah secara sistematis dan berkelanjutan.
“Kami telah membentuk Satgas Penanganan Sampah yang kami pimpin langsung, mengeluarkan instruksi pemilahan sampah di kantor pemerintahan, melakukan edukasi dan pemberdayaan masyarakat, serta menyediakan fasilitas tong sampah di setiap RT, dengan pengangkutan menggunakan motor listrik hingga ke tempat pengolahan sampah terpadu di kecamatan,” jelasnya.
Wali Kota menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang ke depan akan menjadi pemerintah yang melayani, bukan sekadar memerintah.
“To govern is to serve. Memerintah adalah melayani. Kita harus responsif dan komunikatif terhadap semua aduan warga. Spirit ini selaras dengan tema perayaan Nyepi Tahun Saka 1947, yakni ‘Manasewa, Madawasewa Mewujudkan Indonesia Emas 2045’. Melayani sesama manusia merupakan salah satu wujud pelayanan kepada Hyang Widhi Wasa,” tambahnya.















