Ia menggagas agar perayaan Sannipata tahun-tahun berikutnya digelar dalam format yang lebih besar dan inklusif. Ia menawarkan halaman Kantor Wali Kota Kupang sebagai lokasi acara dengan konsep festival budaya yang melibatkan umat lintas agama menggunakan pakaian adat masing-masing dan diiringi partisipasi pelaku UMKM.
“Bayangkan jika umat beragama hadir dalam pakaian adat masing-masing, berpadu dalam keharmonisan budaya dan iman. Ini akan menjadi kekuatan ekonomi dan sosial yang luar biasa. Kami siap mendukung penuh, menyediakan ruang publik dan anggaran,” ujar Wali Kota dengan penuh semangat.
Menurut Wali Kota, Pemerintah Kota Kupang melalui Bagian Kesejahteraan Rakyat tahun ini mengalokasikan anggaran sebesar Rp23 juta lebih untuk mendukung pelaksanaan Sannipata Waisak. Ia menegaskan, meskipun tengah menghadapi badai defisit, dukungan terhadap kegiatan lintas iman seperti ini tidak akan dikurangi. “Potong anggaran perjalanan dinas atau ATK sekalipun, tapi jangan kurangi kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat,” tegasnya.

Wali Kota mencontohkan suksesnya Pawai Paskah Pemuda GMIT yang belum lama ini digelar dan melibatkan lebih dari 150 pelaku UMKM. “Dalam satu malam, uang yang berputar mencapai miliaran rupiah. Ini menunjukkan bahwa ekonomi akan tumbuh jika kita kumpulkan orang melalui kegiatan keagamaan dan budaya. UMKM masuk, ekonomi bergerak,” tegasnya.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, dalam sambutannya menegaskan pentingnya momentum Sannipata sebagai oase spiritual dan forum perekat simpul-simpul kebangsaan. Ia menyebut tiga peristiwa suci dalam Tri Suci Waisak, kelahiran Siddharta Gautama, pencerahan agung, dan wafatnya (Parinibbana) sebagai pelajaran penting tentang kasih, welas asih, dan pencerahan diri. “Perayaan ini adalah undangan bagi kita semua untuk menjaga alam, menolong sesama, dan menyebarkan kebajikan dalam kehidupan,” ujarnya.
Gubernur juga menekankan bahwa keberagaman adalah kekayaan yang perlu dirawat dan diperkuat. Ia mengapresiasi pencapaian Kota Kupang yang kembali masuk dalam 10 besar kota paling toleran di Indonesia. “Ini bukan kebetulan. Ini hasil kerja bersama. Ayo bangun Kota Kupang, ayo bangun NTT,” serunya.















