“Saya belajar banyak dari Pak Gubernur. Beliau bukan hanya pemimpin, tapi juga motivator yang memberi ruang bagi pertumbuhan kerukunan dan kolaborasi,” ungkap Wali Kota.
Wali Kota menekankan pentingnya menjadikan perayaan keagamaan seperti Sannipata bukan hanya sebagai ritual spiritual umat Buddha, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan lintas iman dan budaya yang memperkuat nilai-nilai toleransi dan persaudaraan di Kota Kupang.

Ia mengapresiasi kepemimpinan Ketua Permabudhi Kota Kupang, Indra Effendy, yang dinilainya telah membawa Permabudhi sebagai “kapal besar” yang tidak hanya berlabuh di dermaga, tetapi berlayar menembus gelombang kehidupan sosial. “Pak Indra dan Permabudhi bukan hanya hadir untuk gagah-gagahan. Mereka hadir, bergerak, dan membantu membelah masalah sosial di Kota Kupang,” ujarnya.
Wali Kota juga menyampaikan penghormatan kepada umat Buddha atas kontribusi mereka dalam perjalanan 139 tahun Kota Kupang. Ia menegaskan kembali filosofi pemerintahan “Memerintah adalah melayani,” sembari menegaskan komitmen Pemkot Kupang untuk mendukung seluruh hari besar keagamaan umat di Kota Kupang, termasuk umat Buddha.















