DetikNTT.Com || Ngada – Kepala Desa Naruwolo Kecamatan Jerebuu Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur, Dionisius Yohanes Roa, kepada awak media, pafa Rabu (4/2/2026), bertempat di rumah duka korban, Jerebuu Ngada menerangkan status ekonomi ibu kandung dan nenek yang mengasuh almarhum bocah YBR (10).
Bocah YBR (10) adalah Pelajar Kelas IV sebuah Sekolah Dasar di wilayah Jerebuu Ngada, yang ditemukan gantung diri, pada tanggal 29 Januari 2026, diduga bunuh diri.
Polres Ngada kepemimpinan Kapolres AKBP Andrey Valentino, S.I.K masih terus mendalami peristiwa, mencaritahu penyebab kematian sesungguhnya.
Bocah YBR pergi dengan meninggalkan sepucuk surat yang ditulis tangan dalam bahasa Bajawa Kabupaten Ngada untuk ibu kandungnya.
Kepada wartawan (4/2), Kepala Desa menerangkan bahwa semasa hidup bocah YBR tinggal dengan neneknya di pondok dengan penuh keterbatasan ekonomi.
Sedangkan ibu kandung bocah YBR tinggal di rumah adat, menjaga rumah adat atas mandat suku.
Keadaan rumah tangga ibu kandung bocah YBR sebenarnya telah ditinggal pergi oleh sang suami yang pergi merantau ke Kalimantan.
Kades membenarkab bahwa kondisi ibu kandung YBR juga sangat susah, penuh dengan keterbatasan.
Menurutnya, berdasarkan kondisi real pantauan pemerintah desa, kondisi keluarga almarhum bocah YBR adalah kategori kemiskinan ekstrem.
“Secara pribadi kaget dengan peristiwa ini. Saat kejadian saya tidak berada di lokasi. Saya berada di Kantor Pertanahan, ada urus tujuh aset desa yang harus saya urus. Terkait bantuan terhadap kedukaan ini, saya sejak memimpin desa ini mempunyai visi misi, untuk kedukaan kami memberikan santunan duka sebesar satu juta rupiah, sesuai kemampuan desa. Untuk teknisnya desa juga membantu tenda duka dan kursi selama kedukaan berlangsung. Tentang pendalaman masalah, kami melakukan pendekatan dengan ibu kandung korban dan neneknya. Pertama kami perlu luruskan bahwa ketinggian dahan cengkeh tempat korban ditemukan gantung diri, ketinggiannya bukan 15 meter, tetapi sekitar 1,5 meter. Berikutnya, tentang korban meminta buku dan balpoin, benar tetapi kejadian itu satu minggu sebelum korban ditemukan gantung diri”, ungkap Kepala Desa Naruwolo, Dionisius Yohanes Roa, kepada wartawan, Rabu (4/2/2026),
Menurut Kades, kasus bunuh diri pelajar di wilayah desanya baru kali ini terjadi.
“Status ekonomi keluarga korban, ibu kandung dan nenek korban yang memelihara korban sejak kecil, saya pastikan keluarga ini kategori kemiskinan ekstrem. Kalau untuk kehidupan setiap hari, mereka hidup setengah mati. Ibunya tinggal di rumah adat sesuai petunjuk sukanya. Sedangkan almarhum bocah tinggal bersama neneknya di pondok kebun”, jelas Kepala Desa.
Ia menambahkan KTP ibu korban masih berstatus warga Kabupaten Nagekeo, belum mutasi ke warga Kabupaten Ngada.
“Status kependudukan ibu kandung korban, bisa saya jelaskan, sekitar sebelas atau dua belas tahun lalu mereka tinggal di Kabupaten Nagekeo. Setelah pisah ranjang, ibu kandung dari korban inj kembali ke kampung halamannya disini. Sampai dengan hari ini KTP nya masih Nagekeo. Jadi anak-anaknya kami masukan ke Kartu Keluarga milik neneknya Oma Welu, dalam hal ini kami inisiasi untuk masuk Progran PKH”, urai Kades Dionisius Yohanes Roa, kepada wartawan, pada Rabu (4/2/2026).

Ini terjemahan pesan almarhum Bocah YBR (10) yang ditulis untuk ibu kandungnya sebelum mengakhiri hidup.
KERTAS UNTUK MAMA RETI
MAMA SAYA PERGI DULU
MAMA RELAKAN SAYA PERGI
JANGAN MENANGIS YA MAMA
MAMA SAYA PERGI
JANGAN MENANGIS DAN JANGAN CARI SAYA
SELAMAT TINGGAL MAMA













