Soe, Detikntt.com – International Association of Coaching, Cahaya Astra Literatus, Heart for Timor, Team Coach Internasional, dan Yaswari berkolaborasi menggelar pelatihan bertajuk “Kudidik Diriku Sebelum Kudidik Muridku” di Hotel Blessing, Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), mulai 13 – 16 November 2025.
Pelatihan ini diikuti oleh 339 guru dari 40 sekolah di bawah naungan Yayasan Yaswari. Pelatihan ini bertujuan untuk membentuk karakter pendidik yang memiliki mental dan pola pikir positif sebelum mendidik murid di kelas.
Helen Anthonius, salaku ketua panitia menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang sebelumnya dilakukan untuk tujuh sekolah.
Hasil pelatihan tahun lalu menunjukkan perubahan positif di sekolah masing-masing. “Setelah mengikuti pelatihan, guru-guru jadi lebih sabar, anak-anak lebih cepat belajar, dan pendekatan di kelas lebih manusiawi. Kami lihat ada perubahan nyata dalam cara mereka mendidik dengan kasih,” ungkap Helen.
Melihat dampak positif tersebut, pihak Yaswari memperluas pelatihan ke 39 sekolah lainnya. Keputusan ini diambil karena program ini terbukti berhasil mengubah cara pandang guru terhadap profesinya. “Kami ingin menyebarkan budaya mengajar dengan kasih ke seluruh sekolah Yaswari di TTS. Karena kami tahu, di sini watak masyarakat keras, dan pendekatan yang tegas sering dipakai. Kami ingin ubah itu dengan cara baru yang lebih berempati,” jelasnya.
Pelatihan ini tidak berfokus pada kurikulum, RPP, atau silabus, melainkan pada pendampingan untuk mengasah soft skill guru dalam mengelola kelas, membangun karakter, dan memperkuat motivasi diri.
Hari pertama pelatihan diisi dengan registrasi peserta, perkenalan, pengenalan program, sesi learning attitude, dan refleksi bertema “Saya Bangga Jadi Seorang Guru”.
Maria M. Taena, salah satu kepala sekolah peserta pelatihan, mengaku antusias mengikuti kegiatan ini meski harus menempuh perjalanan jauh dari Nunbena. Ia bersama rombongan berangkat pukul 05.30 pagi dan baru tiba di Soe sekitar pukul 10.00 karena kondisi jalan yang rusak. “Kami enam orang datang, tapi dua teman tidak bisa ikut karena harus menjaga anak kecil. Tapi kami tetap semangat karena tahu pelatihan ini penting. Kami ingin belajar memperbaiki diri supaya bisa mendidik lebih baik,” ujarnya. Ia menambahkan, tema pelatihan sangat relevan dengan kondisi para guru di pedesaan. Guru harus lebih dulu memiliki karakter dan mental yang kuat sebelum mendidik murid di sekolah.
Pimpinan Yaswari memberikan dukungan penuh terhadap pelatihan ini. Ketua Yayasan menilai kegiatan ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan di wilayah TTS yang masih menghadapi banyak keterbatasan.
Romo Blasius Ade Udjan, Pr. S.Fil selaku Yayasan Swastiaari Keuskupan Agung Kupang Cabang TTS, menjelaskan bahwa coaching ini merupakan bentuk pendampingan berkelanjutan bagi guru-guru Yaswari agar memiliki kemampuan mengelola kelas dan berinteraksi dengan murid secara lebih manusiawi. “Ini bukan pelatihan teknis, tapi pembentukan karakter. Kami ingin guru memiliki sikap, cara pandang, dan mental yang matang. Guru harus dididik dulu sebelum mendidik muridnya,” ujarnya.
Helen berharap, setelah pelatihan ini selesai, para guru kembali ke sekolah masing-masing membawa semangat baru dan membangun kultur mengajar yang berlandaskan kasih. “Kalau satu guru berubah, satu sekolah bisa berubah. Dari situ, masa depan pendidikan TTS juga bisa berubah,” tutupnya.




