Menurutnya, Tagepe memiliki potensi besar karena secara tata letak dan ruang sebenarnya sudah cukup baik. Yang diperlukan saat ini adalah mengoptimalkan fungsi taman agar benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Ke depan, kawasan tersebut direncanakan menjadi ruang pengembangan literasi, pendidikan, teater, paduan suara, live music, hingga pameran seni seperti galeri lukisan, galeri foto, dan galeri sejarah Kota Kupang.
“Tagepe ini sebenarnya layout-nya sudah bagus. Tinggal bagaimana kita menciptakan aktivitas baru yang bisa kita optimalkan di sini,” jelasnya.
Namun demikian, Serena menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang tidak ingin mengambil kebijakan secara sepihak tanpa mendengar aspirasi masyarakat sekitar. Karena itu, pendekatan yang digunakan adalah partisipatif dengan mengedepankan respons warga sebelum konsep tersebut dijalankan.
“Kita masih lihat dulu respon dari masyarakat sekitar. Karena kita mau buat kebijakan itu harus melihat respon masyarakat dulu. Jadi bottom to top. Jangan target dari pemerintah langsung kita hajar ke bawah saja. Kalau masyarakat approve, baru kita implementasikan,” tegasnya.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kota Kupang menghadirkan ruang publik yang tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga hidup sebagai pusat interaksi sosial, kreativitas, dan pengembangan potensi masyarakat.
Dengan konsep baru tersebut, Tagepe diharapkan tidak sekadar menjadi taman kota biasa, tetapi bertumbuh menjadi ruang budaya dan kreativitas yang memberi warna baru bagi wajah Kota Kupang.















