DetikNTT.Com || Kota Kupang – Sebuah kota yang bercita-cita menjadi Smart City seperti Kota Kupang, kebutuhan dasar air bersih tidak bisa ditawar. Ia bukan sekadar layanan infrastruktur teknis. Ia adalah denyut kehidupan. Ia adalah keadilan sosial. Ia adalah fondasi pembangunan kota nyaman, kota cerdas. Pelan tapi pasti Pemerintah Kota Kupang dibawah kepemimpinan Christian Widodo dan Serena Francis berkomitmen bahwa seluruh warga memiliki akses yang layak terhadap air bersih, melalui program “Air Hidup untuk Kupang”.
Dari total penduduk kota 500 ribu jiwa, kenyataan bahwa baru 84 ribu jiwa mendapat layanan air minum. Data ini menunjukkan bahwa perjalanan masih panjang. Namun inovasi, program promosi, kerja sama antaroperator, dan manajemen sumber air yang lebih adaptif menjadi tanda bahwa perubahan sudah bergerak. Perumda Air Minum Kota Kupang dan Pemkot Kupang kini berada di persimpangan penting. Yang memastikan bahwa cakupan layanan tidak lagi stagnan di angka 17 persen, tetapi terus naik untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga.
Kota Kupang membangun pondasinya, salah satunya dengan pemenuhan kebutuhan dasar. Agar sebuah Kota Cerdas (Smart City) bukan hanya slogan, tetapi realita yang dirasakan setiap rumah, setiap keluarga, dari setiap tetes air yang mengalir. Dan di balik layar, Perumda Air Minum Kota Kupang bekerja menghadapi realita yang jauh dari sederhana. Wali Kota Kupang, Christian Widodo menegaskan bahwa akses air bersih adalah bagian dari hak dasar warga.
“Air bukan kemewahan. Pemerintah wajib menjamin agar setiap rumah bisa menikmati air bersih dengan mudah dan terjangkau,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Serena Francis menambahkan bahwa penyediaan air bersih juga berhubungan langsung dengan kesehatan masyarakat. Dengan air yang cukup, risiko penyakit menurun, kebersihan meningkat, dan kualitas hidup warga membaik. Oleh karena itu, pemerintah menggandeng Perumda Air Minum untuk memperkuat manajemen dan pelayanan. Program ini menjadi bagian penting dari visi Kupang sebagai kota layak huni.
Direktur Perumda Aur Minum Kota Kupang, Isidorus Lilijawa mengatakan, selama bertahun-tahun, sebagian wilayah Kupang mengalami kendala distribusi air. Pemerintah melalui Perumda Air Minum kini bergerak cepat dengan memperluas jaringan pipa, memperbaiki instalasi, dan membangun sumur bor di titik-titik strategis.
“Hasilnya hingga akhir 2025 ada 84.475 jiwa dari 500ribu penduduk Kota Kupang kini menikmati layanan air minum dari Perumda. Memang dalam layanan kami masih banyak kendala tapi sudah sekitar 17 persen lebih sudah ada sambungan rumah (SR) yang sebelumnya kesulitan air tapi kini sudah terlayani”, jelas Isidorus Lilijawa, Kamis (11/12).
Selain perbaikan fisik, pemerintah juga mendorong inovasi teknologi melalui sistem digital pemantauan tekanan dan kualitas air. Dengan cara ini, gangguan pasokan bisa diatasi lebih cepat, dan warga dapat memantau layanan secara transparan melalui aplikasi khusus.
Kini, di berbagai kelurahan, air bersih mengalir lancar ke rumah-rumah warga. Anak-anak bisa mandi dengan nyaman, ibu rumah tangga lebih tenang, dan para pelaku usaha kecil pun terbantu. Air bukan lagi persoalan, tetapi bukti nyata kehadiran pemerintah yang peduli.
Kupang membuktikan bahwa kota yang kuat dimulai dari kebutuhan paling dasar – air bersih yang mengalir untuk semua. Potret Nyata Ketika Angka Bercerita Hingga akhir 2025, baru 84.475 jiwa yang menikmati layanan air minum dari Perumda. Angka itu setara dengan 17.405 Sambungan Rumah (SR), atau 17,79 persen, jauh tertinggal dari target RISPAM 2005–2026 yang mematok cakupan ideal di kisaran 40–45 persen.
“Gap besar ini menjadi tantangan serius yang mengharuskan Perumda melakukan terobosan untuk memperluas pelayanan. Kupang tidak hanya menghadapi persoalan angka, tetapi juga persoalan ekosistem layanan”, beber Lilijawa.
Di kota ini, penyedia air minum dikelola tiga operator: Perumda Kota Kupang, PDAM Kabupaten Kupang, dan BLUD SPAM Provinsi NTT. Tiga operator, tiga peluang, namun juga tiga tantangan teknis. Kota Kupang hanya memiliki satu sumber air permukaan, yaitu SPAM Kali Dendeng. Sisanya, layanan bertumpu pada 31 sumur bor, yang menjadi harapan utama di kota dengan musim kemarau panjang seperti Kupang.














