Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Daerah

“Beautiful Pain” Sentuh Penonton Kota Kupang, Sarat Pesan tentang Perjuangan Ibu dan Keluarga

12
×

“Beautiful Pain” Sentuh Penonton Kota Kupang, Sarat Pesan tentang Perjuangan Ibu dan Keluarga

Sebarkan artikel ini

KUPANG,detikntt.com – Film drama keluarga Beautiful Pain menggelar special screening di Cinepolis Kupang, Minggu (18/10/2026). Film berdurasi 99 menit ini membawa pesan kuat tentang perjuangan perempuan menghadapi tekanan, ketidakadilan, serta keberanian untuk bersuara.

Beautiful Pain mengisahkan Niken, seorang ibu tunggal yang berusaha bangkit dari keterpurukan dan menemukan harapan baru melalui kariernya sebagai aktris.

Namun, kehidupan Niken kembali berubah ketika ia menghadapi pelecehan seksual dan fitnah yang menghancurkan reputasinya hingga membuatnya kehilangan hak asuh atas anak-anaknya.

Di tengah situasi tersebut, Niken berusaha bangkit. Dengan dukungan orang-orang terdekat, ia berjuang menghadapi sistem yang dinilai bias demi merebut kembali martabat, keluarga, serta haknya untuk menentukan jalan hidup dan menyuarakan kebenaran.

Film produksi Dapur Film ini disutradarai Dmaz Brodjonegoro dan diproduseri Hanung Bramantyo, dengan Nikita Mirzani sebagai executive producer. Skenario ditulis Titien Wattimena, Hanung Bramantyo, dan Dmaz Brodjonegoro.

Baca Juga:  Paket CS-an Unggul di Pilkada Kota Kupang dengan Perolehan 36,29% Suara

Beautiful Pain dibintangi sejumlah aktor dan aktris Indonesia, di antaranya Raihaanun sebagai Niken, Baim Wong sebagai Dirga, Jajang C. Noer sebagai Rahmania, Tarra Budiman sebagai Randy, Nikita Mirzani sebagai Marcella, Dimas Aditya sebagai Gerry, Siti Fauziah sebagai Sekarsari, serta Sha Ine Febriyanti sebagai Nadya Karna.

Selain itu, film tersebut juga diperkuat Anantya Kirana, Evano Zyan, Willem Bevers, Anastasia Herzigova, dan Berliana Lovell.

Dalam pernyataan sutradara, Dmaz Brodjonegoro menjelaskan Beautiful Pain lahir dari kegelisahannya melihat suara perempuan yang masih mudah dibungkam, tidak hanya oleh individu, tetapi juga oleh sistem yang kerap lebih melindungi kekuasaan dibandingkan kebenaran.

Menurutnya, kisah Niken menggambarkan kenyataan yang masih dialami banyak perempuan. Ketika berani menyampaikan apa yang dialami, perempuan justru tidak jarang berhadapan dengan stigma, ketidakpercayaan, hingga pengucilan.

Karakter Niken dipilih sebagai gambaran sosok yang dekat dengan kehidupan masyarakat, yakni seorang ibu yang berjuang mempertahankan martabat, hak asuh anak, dan hak menentukan kisah hidupnya sendiri.

Baca Juga:  Gelar Business Forum NTT – Jawa Timur, BI dan Kadin Dorong Akselerasi Investasi dan Perdagangan

Melalui latar industri televisi, film tersebut juga menyoroti persoalan relasi kuasa dan eksploitasi yang dapat berdampak besar terhadap kehidupan seseorang.

Beautiful Pain pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai trauma, tetapi juga keberanian seseorang untuk bangkit dan merebut kembali suaranya.

Pesan yang ingin disampaikan kepada penonton pun sederhana namun kuat: jangan takut untuk bersuara.

Salah seorang penonton, Hendrikus Mamun, mengaku terkesan setelah menyaksikan film tersebut. Menurutnya, Beautiful Pain memberikan banyak refleksi mengenai kehidupan keluarga, terutama tentang peran seorang ibu dan ayah dalam menghadapi persoalan rumah tangga.

“Pemilihan filmnya sangat luar biasa. Bagaimana peran seorang ibu, peran seorang ayah, lalu bagaimana seorang ibu menghadapi masalah dan menyelesaikannya,” kata Hendrikus usai menyaksikan film tersebut.

Ia menilai film ini banyak menggambarkan perjuangan seorang ibu ketika menghadapi tekanan di dunia kerja sekaligus persoalan yang berkaitan dengan anak-anak dan keluarganya.

Baca Juga:  Resmikan Sumur Bor di Kelurahan Rukun Lima, Kapolda NTT : ini Solusi Air Bersih bagi Masyarakat

“Menjadi seorang perempuan itu sebenarnya harus kuat menghadapi bermacam persoalan,” ujarnya.

Menurut Hendrikus, persoalan dalam kehidupan keluarga harus diselesaikan dengan kepala dingin dan keberanian. Keputusan yang diambil oleh suami maupun istri juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap anak-anak.

Baginya, Beautiful Pain menjadi refleksi mengenai pentingnya menjaga keutuhan keluarga, terutama ketika rumah tangga berada dalam situasi sulit.

“Anak, istri, suami itu tidak bisa dipisahkan. Sebelum mengambil keputusan dalam suatu masalah, kita harus berpikir lebih dahulu,” katanya.

Sebagai seorang laki-laki dan ayah, Hendrikus juga menangkap pesan mengenai pentingnya tanggung jawab seorang suami dalam memahami istri dan anak-anak.

Ia mengingatkan bahwa kesenangan maupun pergaulan di luar rumah jangan sampai menjadi sesuatu yang justru merusak keluarga.

“Sebagai suami ada batas-batas sosial yang kita harus tahu diri,” pungkasnya.

Penulis: Lia kikiEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilarang Copy!