Kupang, DetikNTT.Com – Sebuah ruang publik yang sebelumnya sepi, gelap, dan minim aktivitas kini berubah menjadi pusat perputaran ekonomi masyarakat. Melalui program Sunday Market Buat Orang Kupang atau SabOak, Pemerintah Kota Kupang mencatat nilai transaksi kumulatif yang telah mencapai sekitar Rp5 miliar dalam setahun pelaksanaannya.
Program tersebut menjadi salah satu terobosan yang dijalankan pada 100 hari pertama pemerintahan Wali Kota Kupang, Christian Widodo, dan Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis.
SabOak dirancang bukan hanya sebagai pasar akhir pekan, tetapi menjadi ruang bersama bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, pekerja seni, hingga masyarakat yang ingin menikmati suasana Kota Kupang.
Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, mengatakan SabOak digelar setiap Sabtu dan Minggu dengan melibatkan para pelaku UMKM secara bergiliran.
Para pelaku usaha dibagi ke dalam kelompok A, B, C, dan D, dengan jumlah peserta sekitar 100 hingga 108 pelaku usaha dalam setiap kelompok.
“Setiap Sabtu dan Minggu kami membagi pelaku usaha dalam grup A, B, C, dan D. Taman yang tadinya kosong, gelap, dan tidak memiliki aktivitas kami hidupkan kembali melalui kegiatan ini,” ujar Serena saat berkunjung ke Kantor Redaksi Investortrust di Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Menurut Serena, SabOak tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga menciptakan perputaran ekonomi yang nyata bagi pelaku UMKM.
Dalam tiga bulan pertama pelaksanaan, nilai transaksi di SabOak telah mencapai sekitar Rp1 miliar. Setelah berjalan selama satu tahun, nilai transaksi kumulatifnya bahkan telah menembus sekitar Rp5 miliar.
Pencapaian tersebut, kata Serena, menunjukkan bahwa optimalisasi ruang publik dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.
Ruang yang sebelumnya tidak produktif kini menjadi tempat bagi pelaku usaha untuk menawarkan produk, memperkenalkan merek, dan bertemu langsung dengan konsumen tanpa harus menanggung biaya tempat usaha yang besar.
Selain meningkatkan pendapatan UMKM, keberadaan SabOak juga memberikan efek berganda bagi perekonomian Kota Kupang.
Keramaian yang tercipta ikut meningkatkan aktivitas di sektor restoran, penginapan, pusat perdagangan, hingga berbagai usaha jasa lainnya. Menurut Serena, sektor restoran menjadi salah satu yang paling merasakan dampak dari meningkatnya aktivitas masyarakat dan wisatawan di Kota Kupang.
SabOak juga dikembangkan sebagai bagian dari strategi Pemerintah Kota Kupang dalam memperkuat daya tarik wisata perkotaan.
Berbagai kegiatan seni, budaya, hiburan, dan kuliner ditampilkan dalam pasar akhir pekan tersebut. Dengan demikian, masyarakat yang datang tidak hanya berbelanja, tetapi juga mendapatkan pengalaman menikmati identitas dan suasana khas Kota Kupang.
Serena menilai Kota Kupang memiliki posisi strategis sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur sekaligus menjadi salah satu pintu masuk ke berbagai destinasi di kawasan timur Indonesia.
Meski sebagian besar destinasi wisata unggulan NTT berada di luar wilayah administratif Kota Kupang, pemerintah ingin menjadikan kota ini lebih dari sekadar tempat transit.
“Kupang ingin dikembangkan sebagai pit stop yang menawarkan kuliner, budaya, hiburan, dan layanan perhotelan sebelum wisatawan melanjutkan perjalanan ke daerah lain,” demikian arah pengembangan yang disampaikan Serena.
Dengan konsep tersebut, SabOak diharapkan terus berkembang sebagai ruang publik yang bukan hanya menghidupkan akhir pekan warga Kota Kupang, tetapi juga menjadi salah satu penggerak ekonomi, UMKM, dan pariwisata perkotaan di Nusa Tenggara Timur.














