Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Daerah

Pidato Pembangunan HUT ke-81 RI,Gubernur Melki Beberkan Capaian NTT dan Arah Pembangunan ke Depan

22
×

Pidato Pembangunan HUT ke-81 RI,Gubernur Melki Beberkan Capaian NTT dan Arah Pembangunan ke Depan

Sebarkan artikel ini

KUPANG,detikntt.com — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan pembangunan NTT merupakan hasil estafet pengabdian lintas generasi yang terus dilanjutkan untuk mewujudkan daerah yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Melki dalam pidato pembangunan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yang digelar di Aula Fernandez, Kantor Gubernur NTT, Sabtu (15/8/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Gubernur NTT Irjen Pol.(Purn) Dr. Drs Johanis Asadom,M. Hum , Ketua DPRD Provinsi NTT Emilia Julia Nomleni bersama jajaran pimpinan DPRD NTT, Forkopimda NTT, Plh Sekretaris Daerah Provinsi NTT, instansi vertikal, BUMN, BUMD, serta insan pers dan media massa.

Dalam pidatonya, Melki mengajak seluruh elemen masyarakat melihat perjalanan pembangunan NTT sebagai proses berkelanjutan yang dibangun melalui kontribusi para pemimpin dari masa ke masa.Ia menyebut Gubernur pertama NTT, William Johanes Lalamentik, telah meletakkan dasar kelembagaan pemerintahan dan pelayanan publik. Selanjutnya, El Tari menggerakkan sektor pertanian dan penghijauan melalui semangat “Tanam, Tanam, Sekali Lagi Tanam.”

Sementara Aloysius Benedictus Ben Mboi memperkenalkan pembangunan terpadu melalui Operasi Nusa Makmur, Operasi Nusa Hijau, dan Operasi Nusa Sehat.“Setiap periode pemerintahan telah memberikan kontribusi dan meletakkan fondasi bagi pembangunan NTT,” kata Melki.

Menurutnya, Hendrikus Fernandez memperkuat ekonomi rakyat melalui GEMPAR atau Gerakan Meningkatkan Pendapatan Asli Rakyat. Herman Musakabe kemudian memperluas perhatian terhadap pembangunan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, penataan ruang, transportasi, pariwisata, serta tenun ikat sebagai identitas budaya NTT.

Selanjutnya, Piet Alexander Tallo menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan melalui konsep Tiga Batu Tungku, yakni ekonomi rakyat, pendidikan rakyat, dan kesehatan rakyat.Pada masa Frans Lebu Raya, kata Melki, upaya pengentasan kemiskinan dipercepat melalui program ANGGUR MERAH atau Anggaran untuk Rakyat Menuju Sejahtera.Sementara pada era Viktor Bungtilu Laiskodat, pembangunan diperkuat pada sektor pertanian, peternakan, kelautan dan perikanan, pariwisata, serta sumber daya manusia melalui pendekatan Field Leadership.

Program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), lanjutnya, turut mendorong perubahan pola pertanian dari subsisten menuju agribisnis yang lebih produktif, modern, dan berorientasi pasar.“Dan kini, saya, Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama Johni Asadoma, sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur periode 2025-2030, melanjutkan estafet pembangunan Nusa Tenggara Timur melalui visi NTT Maju, Sehat, Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan,” ujar Melki.

Baca Juga:  Penetapan Tersangka Yohanes kaki  Cacat Hukum, Saksi Ahli :  Dua Sprindik Langgar Prosedur

Visi tersebut kemudian dijabarkan melalui Dasa Cita Ayo Bangun NTT. Menurut Melki, Dasa Cita juga merupakan terjemahan kontekstual dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan mempertimbangkan karakteristik, potensi, tantangan, dan kebutuhan masyarakat NTT.Ekonomi NTT Tumbuh 5,01 PersenMelki menyebut berbagai program pembangunan yang dijalankan mulai menunjukkan hasil. Salah satunya terlihat dari pertumbuhan ekonomi NTT.

Pada Triwulan II 2026, ekonomi NTT tumbuh 5,01 persen secara year-on-year dibandingkan periode yang sama pada 2025.Pertumbuhan tersebut, menurut Melki, menunjukkan aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak dan sektor-sektor produktif daerah semakin berkembang. Di sisi lain, persentase penduduk miskin pada Maret 2026 turun menjadi 17,52 persen atau berkurang 1,08 poin persentase dibandingkan Maret 2025. Sementara tingkat ketimpangan pengeluaran yang diukur melalui Gini Ratio berada pada angka 0,319.“Capaian ini mencerminkan arah pembangunan yang semakin inklusif dengan intervensi terstruktur melalui penguatan ekonomi keluarga, perluasan akses pasar produk lokal, serta pemerataan hasil pembangunan,” katanya.

Melki menegaskan momentum tersebut akan terus dijaga melalui penguatan dan percepatan pelaksanaan Dasa Cita Melki-Johni dengan kolaborasi lintas sektor serta sinergi dengan program pemerintah pusat.

Fokus Kesehatan dan Penurunan Stunting

Dalam Dasa Cita Kelima, Pemerintah Provinsi NTT menempatkan kesehatan masyarakat sebagai fondasi pembangunan melalui agenda “Posyandu Tangguh, Masyarakat Sehat, dan Bebas Stunting.”Pemerintah memperkuat Posyandu, pelayanan kesehatan dan gizi, serta percepatan penurunan stunting melalui intervensi terpadu dan kolaborasi lintas sektor.

Berdasarkan data SSGI, prevalensi stunting NTT pada 2024 tercatat 37 persen. Pada 2025, data SSGI masih menggunakan angka 37 persen. Sementara berdasarkan ePPGBM, prevalensi stunting turun dari 21,1 persen pada 2024 menjadi 20,2 persen pada 2025.Hingga Mei 2026, hasil penimbangan ePPGBM tercatat 22,8 persen. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk terus memperkuat ketepatan pemantauan dan intervensi penanganan stunting.Penanganan dilakukan sejak masa remaja, kehamilan, kelahiran hingga anak berusia lima tahun. Program mencakup pemberian tablet tambah darah, pendampingan ibu hamil, dukungan menyusui, penanganan balita bermasalah gizi, pemberian makanan bergizi, serta edukasi keluarga.Pemerintah juga mengembangkan Program Orang Tua Asuh dan meningkatkan kapasitas kader Posyandu melalui pelatihan 25 kompetensi dasar Integrasi Layanan Primer.

Baca Juga:  Peredaran Rokok Ilegal di Kota Ende Terus Marak, Pemerintah Diminta Bertindak Tegas

Kasus Malaria dan DBD MenurunMelki juga menyampaikan perkembangan pengendalian penyakit menular di NTT.Kasus malaria turun dari sekitar 8.900 kasus pada 2024 menjadi 4.300 kasus pada 2025. Hingga pertengahan 2026, tercatat sekitar 1.200 kasus, sementara 11 kabupaten/kota telah memperoleh sertifikasi eliminasi malaria.Kasus demam berdarah juga mengalami penurunan. Dari hampir 4.000 kasus dengan 29 kematian pada 2024, menjadi sekitar 2.100 kasus dengan delapan kematian pada 2025. Hingga Juni 2026, tercatat 918 kasus dengan dua kematian.Untuk rabies, pemerintah memperkuat vaksinasi, penyediaan serum antirabies, pusat pelayanan rabies di Puskesmas dan rumah sakit, serta pendekatan One Health.

Angka kematian akibat gigitan hewan penular rabies turun dari 46 jiwa pada 2024 menjadi 30 jiwa pada 2025 dan delapan jiwa hingga pertengahan 2026.Perkuat Pelayanan KesehatanDari sisi infrastruktur dan pelayanan, pada 2026 NTT memiliki 70 rumah sakit. Sebanyak 64 rumah sakit telah terakreditasi.NTT juga memiliki 446 Puskesmas dengan 440 di antaranya telah terakreditasi. Pemerintah terus mengembangkan telemedisin untuk memperluas akses pelayanan kesehatan, terutama bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau.Perlindungan anak juga menjadi bagian dari pembangunan kesehatan masyarakat. Pemerintah memperkuat Kabupaten/Kota Layak Anak, Forum Anak, Sekolah dan Rumah Ibadah Ramah Anak, PAUD Holistik Integratif, serta perlindungan anak dari kekerasan, eksploitasi, perdagangan orang, dan ancaman digital.UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak menangani 216 kasus kekerasan terhadap anak pada 2024 dan meningkat menjadi 258 kasus pada 2025.Pendidikan Jadi Kunci Daya SaingMelki kemudian memaparkan Dasa Cita Keenam, yakni “Sekolah Vokasi Unggulan Berbasis Potensi Daerah.”Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing NTT.

Baca Juga:  Wali Kota Kupang Tekankan Percepatan Sistem Kerja dan Penguatan SKP dalam Apel Kekuatan

Pemerintah Provinsi NTT memperluas akses dan mutu pendidikan, memperkuat pendidikan vokasi berbasis potensi daerah, serta menyiapkan generasi yang kompeten, berkarakter, dan siap melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.Pada 2025, Angka Partisipasi Kasar (APK) SMA/SMK mencapai 100,51 persen dan Angka Partisipasi Murni (APM) sebesar 70,18 persen.Rata-rata Lama Sekolah meningkat dari 8,02 tahun pada 2024 menjadi 8,22 tahun pada 2025. Sementara Harapan Lama Sekolah meningkat dari 13,23 tahun menjadi 13,34 tahun.Dari sisi mutu pendidikan, terdapat 218 sekolah berakreditasi A, 432 sekolah berakreditasi B, dan 364 sekolah berakreditasi C.Makna Kemerdekaan Harus Dirasakan MasyarakatMengakhiri pidatonya, Melki mengaitkan pembangunan NTT dengan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mewujudkan Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.Menurutnya, tema HUT ke-81 Kemerdekaan RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, merupakan penegasan kembali terhadap cita-cita konstitusional yang diwariskan sejak 1945.Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, kata Melki, pembangunan harus terus diukur dari sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.“Bagi Nusa Tenggara Timur, jawabannya harus diwujudkan dalam kehidupan nyata masyarakat. Ketika ketahanan pangan menguat, konektivitas antarpulau membaik, pendidikan dan kesehatan semakin berkualitas, petani, nelayan, peternak, dan UMKM semakin berdaya, serta investasi dan lapangan kerja tumbuh, di situlah makna Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur hadir di NTT,” tegasnya.

Melki menegaskan pembangunan NTT ke depan membutuhkan kerja bersama seluruh elemen, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, hingga insan pers.Dengan kolaborasi tersebut, pemerintah optimistis estafet pembangunan yang telah dirintis para pemimpin terdahulu dapat terus dilanjutkan untuk membawa NTT menuju masa depan yang lebih maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilarang Copy!