Elias, warga RT 22 di sekitar Taman Nostalgia (Tamnos), mengusulkan penambahan penerangan dan peningkatan keamanan di area taman yang gelap dan rawan gangguan. Wali Kota menanggapi bahwa penerangan taman akan ditingkatkan dengan lampu hias di pohon-pohon, serta akan ada penempatan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) secara bergiliran (tiga shift) setelah renovasi kantor jaga selesai.

Bernad Kolimon, Ketua RT 25, mengangkat masalah penanganan sampah di RT 22 dan RT 23 yang belum optimal karena keterbatasan armada. Ia juga mengusulkan agar kontainer sampah diletakkan di dekat pos Satpol PP untuk memudahkan pengawasan. Wali Kota menyetujui penempatan dua kontainer besar untuk RT 22 dan RT 23 di kawasan Tamnos, dengan jadwal buang sampah dari pukul 18.00–05.00 WITA dan jadwal angkut antara pukul 05.00–09.00 WITA setiap hari. RT diminta untuk mensosialisasikan hal ini kepada warga.
Merry Wabang, kader Posyandu Permata Ibu Tujuh di belakang Gereja Kota Baru, menyampaikan bahwa dana operasional untuk PMT (Pemberian Makanan Tambahan) belum cair selama enam bulan. Ia juga menyampaikan bahwa kader posyandu yang bertugas menggantung ember Wolbachia di RT 22 dan RT 23 belum menerima honor. Wali Kota menanggapi bahwa pencairan dana PMT triwulan I (Januari–Maret) sudah mulai dilakukan per 11 Juni 2025 dan akan segera disusul pencairan triwulan II. Beliau juga berkomitmen menaikkan insentif kader dari Rp150.000 menjadi Rp200.000 per kegiatan, serta akan menambah nilai bantuan pada APBD 2026.

Salah seorang warga RT 23, meminta penertiban terhadap kendaraan roda dua dan empat yang parkir sembarangan di atas trotoar, khususnya di depan SD Bertingkat Kelapa Lima, karena telah merusak keramik trotoar. Wali Kota memerintahkan Satpol PP untuk menindak tegas pelanggaran ini, tanpa pandang bulu.
Dalam tanggapannya, Wali Kota menegaskan bahwa aspirasi warga bukan hanya didengar, tetapi akan langsung ditindaklanjuti oleh perangkat daerah teknis. Ia juga mengapresiasi warga yang menyampaikan keluhan dengan cara yang tertib dan konstruktif.
“Saya senang karena warga Kota Kupang kini makin cerdas dan dewasa dalam menyampaikan aspirasi. Tidak perlu marah-marah, cukup datang dan bicara, kami siap mendengar dan bertindak,” ungkapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam situasi efisiensi anggaran, Pemkot tetap memprioritaskan alokasi untuk pelayanan langsung ke masyarakat. Termasuk keputusan untuk tidak membeli mobil dinas baru dan memotong anggaran perjalanan dinas, agar dana bisa dialihkan ke kebutuhan vital seperti honor kader, kebersihan, dan pelayanan dasar lainnya.
Wali Kota menutup pertemuan dengan menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini akan dilaksanakan secara rutin setiap minggu, dan akan disiapkan nomor hotline khusus untuk menerima keluhan warga secara langsung dan terdokumentasi.
Setelah dialog, Wali Kota mengajak seluruh peserta untuk menikmati santap sore bersama dengan pangan lokal sebagai bentuk kebersamaan dan pemberdayaan komunitas lokal.















