Fatuulan||DetikNTT.com- Puluhan warga di Desa Fatuulan mengaku merasa tertipu setelah menunggu hampir satu tahun pemasangan meteran listrik murah yang dijanjikan kepala desa. Sejak November 2023, warga telah menyerahkan uang sebesar Rp500.000 per rumah untuk pengadaan meteran listrik, namun hingga kini realisasi yang dijanjikan belum terealisasi.
Menurut seorang warga yang enggan disebutkan namanya, kepala desa berjanji pemasangan akan dilakukan satu bulan setelah uang diserahkan. Namun, hingga batas waktu yang dijanjikan, tidak ada kemajuan. Awalnya, warga tidak menuntut karena mengira prosesnya sedang berjalan. Namun, setelah menunggu berbulan-bulan tanpa kejelasan, mereka mulai mempertanyakan nasib uang mereka.
“Kami mulai menanyakan pada Maret 2024, tapi jawabannya selalu nanti. Kami kembali lagi pada Agustus dan November, tapi tidak ada kejelasan. Jawaban mereka selalu sama: ‘kami akan berusaha’,” tutur seorang warga melalui sambungan telepon.
Warga mengaku sudah enam kali menagih janji tersebut kepada kepala desa, namun hasilnya nihil. Mereka semakin khawatir uang yang telah disetor akan hilang begitu saja.
Kepala desa berdalih bahwa dana tersebut telah disalurkan kepada pihak ketiga, dalam hal ini seorang bernama SN, yang bertugas mengurus pemasangan meteran. Namun, SN justru memberikan alasan lain.
Menurut SN, program ini berkaitan dengan kampanye politik seorang calon anggota DPR RI yang menjanjikan subsidi meteran listrik. Namun, karena calon tersebut kalah dalam pemilu, pemasangan meteran listrik akhirnya terhenti. SN mengklaim bahwa sebagian besar uang warga telah digunakan untuk mengurus Surat Layak Operasi (SLO) dan Nomor Identitas Instalasi (NIDI), sementara sisanya dipakai untuk membeli beberapa material listrik.
Sementara itu, kepala desa Fatuulan mengakui bahwa dana warga memang dikumpulkan dan diserahkan kepada pihak lain. “Iya, benar uang itu saya tampung dan diteruskan ke teman yang lain, Om IN, lalu diteruskan lagi ke SN. Sampai sekarang belum ada kejelasan, tapi SN janji pertengahan bulan ini uang akan dikembalikan,” jelas kepala desa.
Hingga saat ini, warga masih menunggu kepastian apakah meteran listrik mereka akan dipasang atau uang mereka dikembalikan. Namun, tanpa kepastian dari kepala desa maupun pihak terkait, warga hanya bisa berharap agar janji yang diberikan bukan sekadar omong kosong.**












