Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaEkonomi

Festival Budaya di Pantai Kopan Dorong Ekonomi Kreatif dan Hidupkan Kembali Kota Tua Kupang

70
×

Festival Budaya di Pantai Kopan Dorong Ekonomi Kreatif dan Hidupkan Kembali Kota Tua Kupang

Sebarkan artikel ini

Kupang, DetikNTT.Com – Kawasan Pantai Kopan, Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK), Kota Kupang, kembali menjadi ruang perjumpaan budaya sekaligus membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi kreatif masyarakat melalui Festival Pecinan Event Budaya Multietnis, Jumat (4/9/2026).

Mengangkat tema “Merajut Budaya dalam Harmoni”, festival yang berlangsung selama dua hari tersebut memadukan seni, tradisi, hiburan, dan kreativitas masyarakat.

Kegiatan ini sekaligus diarahkan untuk menghidupkan kembali kawasan Kota Tua sebagai ruang budaya, pariwisata, dan aktivitas ekonomi masyarakat.

Festival secara resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H., di Pantai Kopan. Hadir pula Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, S.H., jajaran perangkat daerah, camat dan lurah se-Kecamatan Kota Lama, tokoh masyarakat serta warga setempat.Jeffry mengatakan, keberagaman etnis dan budaya yang hidup di Kota Kupang merupakan modal sosial sekaligus kekuatan dalam membangun kota sebagai rumah bersama.

Baca Juga:  Saboak Kota Kupang Genap 1 Tahun, Perputaran Ekonomi UMKM Tembus Rp6,3 Miliar

“Keragaman etnis dan budaya adalah kekuatan kita. Ibarat sebuah konser, ada yang bermain gitar, drum, bernyanyi, hingga penonton yang bertepuk tangan. Semua perbedaan itu terajut menjadi satu harmoni yang indah,” ujar Jeffry.

Menurutnya, kegiatan budaya tidak seharusnya hanya menjadi agenda pelestarian tradisi. Kawasan bersejarah seperti Kota Tua juga perlu dikembangkan menjadi ruang produktif yang mampu mempertemukan sejarah, budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat.

“Jadikan Kota Kupang ini sebagai rumah bersama dengan saling menghargai dan merawat kebersihan,” pesannya.

Ketua Panitia, Antoni Niti Susanto, mengatakan pemilihan kawasan LLBK sebagai lokasi festival memiliki kaitan erat dengan sejarah perkembangan Kota Kupang. Kawasan tersebut menjadi bagian dari sejarah perjumpaan berbagai komunitas, mulai dari masyarakat asli Helong hingga komunitas Portugis, Belanda, Tionghoa, dan Arab.

Baca Juga:  Kapolres TTU Siapkan 141 Personel untuk Pengamanan HUT Kefamenanu dan Pilkada 2024

Sejarah perjumpaan tersebut kemudian menjadi inspirasi pelaksanaan festival yang mengusung semangat keberagaman dalam harmoni.

Antoni berharap kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat pelestarian budaya, tetapi juga mampu menarik wisatawan dan meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Kupang.

“Melalui festival ini, kami berharap dapat melestarikan budaya lokal, menarik kunjungan wisatawan, serta meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Kupang,” katanya.

Dengan konsep tersebut, Festival Budaya Multietnis LLBK menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali kawasan Pantai Kopan dan Kota Tua tidak hanya sebagai ruang publik, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif Kota Kupang.

Selama dua hari pelaksanaan, festival menghadirkan berbagai kegiatan, mulai dari karnaval budaya multietnis, Natoni, atraksi Barongsai, stand-up comedy, tari tradisional, hingga konser musik live.

Baca Juga:  Bumi Perkemahan Fatubena Kota Kupang jadi titik pelaksanaan Jambore Daerah X Pramuka NTT

Pada hari kedua, kegiatan dilanjutkan dengan lomba busana atau fashion show tingkat TK, pentas seni anak-anak, pembacaan puisi, tari Tobe bersama, dan penutupan festival.

Di tengah perayaan budaya tersebut, panitia juga menyisipkan aksi kemanusiaan dengan menggelar hening cipta bagi masyarakat Flores yang terdampak bencana alam.

Sekda Jeffry mengajak masyarakat untuk terus mendoakan para korban dan warga terdampak sekaligus menjaga semangat gotong royong dan solidaritas.

Ia juga menyampaikan bahwa sebelumnya Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, telah menjalankan misi kemanusiaan selama kurang lebih lima hari dengan mengunjungi enam kabupaten di Pulau Flores dan menyalurkan bantuan sekitar Rp635 juta yang bersumber dari APBD serta donasi ASN Pemerintah Kota Kupang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dilarang Copy!